Kerusakan jalan kabupaten yang menghubungkan Rangkasbitung dan Leuwidamar ini dipicu oleh intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Pantauan di lokasi menunjukkan material tanah di bahu jalan terus tergerus. Jika dibiarkan tanpa penanganan darurat, badan jalan utama terancam patah dan memutus akses transportasi antar-wilayah.
Robi, salah seorang warga setempat, menyayangkan sikap otoritas terkait yang seolah menunggu kerusakan bertambah parah sebelum bertindak. Menurutnya, biaya perbaikan akan membengkak jika kerusakan sudah mencapai badan jalan utama.
"Seharusnya ditangani secepatnya. Kalau sekarang mungkin cukup dengan penimbunan saja. Tapi kalau jalan sudah putus, tentu perbaikannya butuh biaya yang jauh lebih besar," ujar Robi saat ditemui di lokasi, Kamis, 15 Januari 2026.
Senada dengan Robi, sejumlah pengendara yang melintas mengungkapkan kekhawatirannya. Selain mengancam keselamatan, penyempitan area jalan akibat amblas tersebut membuat arus lalu lintas tersendat, terutama pada malam hari karena minimnya penerangan di sekitar lokasi.
Masyarakat mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak maupun instansi terkait lainnya untuk segera melakukan pengerasan atau pemasangan turap darurat. Sikap pasif pemerintah daerah dalam menangani titik rawan bencana di jalur vital ini dikhawatirkan akan memicu kecelakaan lalu lintas yang lebih fatal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas PUPR Kabupaten Lebak terkait rencana perbaikan atau langkah mitigasi di ruas jalan Rangkasbitung-Leuwidamar tersebut.
Penulis: Badri
Editor: Neni


