Cilegon — Tanggapan kritis datang dari salah satu tokoh pemuda Kota Cilegon, Cecep ZF, menyusul opini yang disampaikan Pimpinan Redaksi Jurnal KUHP, Zainal Mutakin, terkait metafora “mendung” yang menggambarkan dinamika pemerintahan dan pemuda di kota industri tersebut pada Rabu (8/4/2026).
Cecep menilai, analogi mendung yang diangkat Jurnal KUHP bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan kondisi riil yang selama ini dirasakan masyarakat, khususnya kalangan pemuda. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan di Cilegon tidak boleh berhenti pada narasi reflektif semata, melainkan harus diikuti langkah konkret dan keberanian evaluasi dari pemerintah daerah.
“Kalau kita bicara mendung, itu artinya ada sesuatu yang tertahan. Dalam konteks Cilegon, yang tertahan itu adalah kepercayaan publik, partisipasi pemuda, dan keberpihakan kebijakan,” ujar Cecep.
Menurutnya, Pemerintah Kota Cilegon masih kerap terjebak pada pola komunikasi satu arah. Banyak program yang digulirkan, namun tidak dibarengi dengan pelibatan aktif generasi muda dalam proses perencanaan maupun pengawasan.
“Pemuda bukan hanya objek pembangunan, tapi subjek. Sayangnya, ruang itu seringkali hanya formalitas. Forum ada, tapi tidak substantif,” tegasnya.
Cecep juga menyoroti adanya kecenderungan pemerintah yang dinilai kurang responsif terhadap kritik. Ia menyebut, kritik dari pemuda sering kali dipersepsikan sebagai gangguan, bukan sebagai bagian dari kontrol sosial yang sehat dalam sistem demokrasi lokal.
“Kalau kritik dianggap ancaman, maka wajar jika mendung itu tidak pernah benar-benar berubah jadi hujan yang menyejukkan. Justru bisa jadi badai ketidakpercayaan,” katanya.
Lebih jauh, Cecep menekankan pentingnya keberanian pemerintah untuk membuka ruang dialog yang jujur dan setara. Ia mendorong agar pemerintah tidak hanya mengedepankan pencitraan, tetapi juga transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan pemuda agar tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi turut menghadirkan gagasan dan solusi. Menurutnya, peran pemuda harus tetap konstruktif dan berorientasi pada perubahan.
“Kita juga harus jujur, pemuda tidak boleh hanya pandai mengkritik tanpa menawarkan jalan keluar. Harus ada keseimbangan antara kritik dan kontribusi,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Cecep berharap “mendung” yang kini menyelimuti Cilegon dapat segera berubah menjadi hujan yang membawa keber kahan, bukan justru memperparah kondisi.
“Cilegon ini kota besar dengan potensi luar biasa. Tinggal bagaimana pemerintah dan pemudanya bisa duduk bersama, membuka ruang, dan membangun kepercayaan. Kalau itu terjadi, saya yakin mendung ini akan jadi awal perubahan,” pungkasnya.(hairul/red).


