Iklan

Projek Pemeliharaan Pemagaran dan Pengembangan lahan Olahraga di duga asal jadi.

Detikflash
Kamis, 30 April 2026, 01:26 WIB Last Updated 2026-04-30T08:26:07Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


 

Serang, Detikflash — Aroma dugaan pekerjaan asal jadi kembali mencuat dari proyek pemerintah. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada kegiatan pemeliharaan Taman Bermain Anak di kawasan Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, yang dinilai jauh dari standar kelayakan, bahkan terkesan seperti proyek tanpa kendali.

Aktivis dan pemantau kebijakan publik di Kota Serang dan Provinsi Banten angkat bicara. AF dengan tegas menilai proyek yang dikerjakan oleh CV. Milenial Bangun Kontruksi ini bukan hanya mengecewakan, tetapi juga mencederai akal sehat publik. Dengan nilai kontrak mencapai Rp297.480.000 dan waktu pelaksanaan 50 hari kalender, hasil di lapangan justru memunculkan tanda tanya besar: ini proyek pemeliharaan atau pembiaran?

Hasil investigasi di lokasi menunjukkan fakta yang sulit dibantah. Tidak terlihat aktivitas pekerjaan yang jelas, tidak ada pelaksana di tempat, dan yang lebih ironis, konsultan pengawas yang seharusnya menjadi garda terdepan pengendali mutu justru sulit dihubungi. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa fungsi pengawasan hanya formalitas di atas kertas, tanpa implementasi nyata di lapangan.

Lebih parah lagi, sisa material proyek tampak berserakan tanpa penataan, menciptakan kesan kumuh dan amburadul. Alih-alih memberikan manfaat bagi masyarakat, lokasi tersebut justru berubah menjadi potret kelalaian dan ketidakseriusan. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi indikasi lemahnya tanggung jawab dan potensi pemborosan anggaran daerah.

Proyek dengan nomor kontrak 000.3,2/71-SPK/PEMAGARAN, TAMANSTD.MY/PPK-DISPARPORA/2026 yang bersumber dari APBD Kota Serang ini seharusnya menjadi representasi pelayanan publik yang baik. Namun yang terjadi justru sebaliknya—sebuah gambaran buram tentang tata kelola proyek yang patut dipertanyakan.

AF menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Penelusuran lanjutan akan dilakukan, termasuk melayangkan surat konfirmasi dan klarifikasi kepada dinas terkait. “Ini bukan sekadar proyek gagal, ini cermin buruknya pengawasan. Kalau dibiarkan, praktik seperti ini akan terus berulang,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak dinas terkait maupun pelaksana proyek belum memberikan keterangan resmi. Sikap bungkam ini semakin memperkuat kecurigaan publik: ada apa sebenarnya di balik proyek ini?

Jika proyek dengan anggaran ratusan juta rupiah saja dikelola seperti ini, maka wajar publik mempertanyakan—ke mana sebenarnya arah dan integritas pengelolaan anggaran daerah? ( Biro )

Komentar

Tampilkan

Terkini