Iklan

Antara Bisnis dan Benteng Kemanusiaan: Nasib Pekerja Migran Indonesia di Arab Saudi

Detikflash
Minggu, 02 Agustus 2026, 23:07 WIB Last Updated 2026-08-03T06:07:35Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


MADINAH, Detikflash.net – Di sepanjang jalan Kota Madinah, nama-nama daerah di Indonesia menghiasi papan nama restoran. Ada Restoran Padang, Jawa, Jakarta, Sunda, hingga Jambi. Menu yang disajikan pun sesuai selera lidah orang Indonesia, dengan harga berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000 per porsi.


Nama "Indonesia" dipakai untuk menarik jamaah umrah dan pekerja migran. Namun ketika ditelusuri, tidak sedikit restoran itu bukan milik pengusaha Indonesia. Warga negara Indonesia hadir di sana sebagai pekerja. Mereka memasak, melayani, membersihkan, dan mengantar makanan, sementara keuntungan mengalir kepada pemilik modal di Arab Saudi.


Ketua Lembaga Amal Pesantren Indonesia, H. Wari Syadeli, http://M.Si., menilai ini adalah cermin besarnya peluang bisnis kuliner di Tanah Suci yang belum banyak dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia.


"Bayangkan, jika lebih dari 1,5 juta jamaah Indonesia setiap tahun membeli makanan dengan harga rata-rata 30–35 riyal per porsi, dan melakukannya berkali-kali selama di Tanah Suci, maka uang yang berputar mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah," ujar Wari dalam tulisannya dari Madinah, Minggu 03/08/2026.


"Uang sebesar itu lahir dari keringat masyarakat Indonesia, tetapi nilai tambahnya tidak mengalir ke Indonesia. Yang kembali hanya gaji para pekerja. Sementara laba, ekspansi usaha, dan akumulasi modal tetap berada di tangan pemilik usaha di Arab Saudi," lanjutnya.


Bagi Wari, persoalan yang lebih mendesak bukan hanya soal ekonomi, tetapi kemanusiaan. Di balik gemerlap hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan, terdapat kisah pekerja migran Indonesia, khususnya perempuan, yang mengalami kerentanan.


Berdasarkan kesaksian para mukimin Indonesia yang telah puluhan tahun di Arab Saudi, sejumlah masalah kerap terjadi. Mulai dari kehilangan kafil sehingga tidak dapat mengurus izin keluar atau _khuruj niha'i_, visa mati hingga _overstay_, kehilangan pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal layak, hingga menjadi korban eksploitasi seksual dan perdagangan orang.


"Tekanan ekonomi juga membuat sebagian perempuan terjebak dalam relasi eksploitatif, termasuk 'nikah temporal' demi mempertahankan hidup. Ironisnya, sebagian dilakukan oleh oknum sesama warga Indonesia, baik pekerja maupun oknum bos wisatawan," tulis Wari.


Ia menegaskan, kisah-kisah itu tidak menggambarkan seluruh pekerja migran. Namun cukup menjadi pengingat bahwa masih ada luka kemanusiaan yang belum sepenuhnya terobati.


Wari mempertanyakan peran pengusaha Muslim Indonesia. Menurutnya, semangat membangun bisnis untuk keuntungan belum diimbangi dengan keberanian membangun bisnis yang menjadi benteng kemanusiaan.


"Mengapa belum banyak rumah singgah bagi pekerja migran yang terlantar? Mengapa belum banyak lembaga usaha Indonesia di Arab Saudi yang menyediakan bantuan hukum, pendampingan sosial, atau program pemberdayaan bagi mereka yang paling rentan?" ujarnya.


Ia mengingatkan teladan Utsman bin Affan yang membeli sumur untuk mengakhiri monopoli air dan memberi manfaat bagi umat. Spirit itu, kata dia, yang mulai pudar saat ini.


"Kita terlalu sering memisahkan bisnis dari ibadah. Padahal keuntungan juga dapat diubah menjadi sekolah, pesantren, rumah singgah, layanan kesehatan, bantuan hukum, modal usaha, dan dana ZISWAF yang mengangkat martabat manusia," jelasnya.


Wari mendorong pengusaha Indonesia membangun "pipa ekonomi" dari Arab Saudi menuju Indonesia. Setiap keuntungan bisa menjadi investasi di tanah air, setiap laba bisa menjadi beasiswa, setiap restoran bisa menjadi pintu lahirnya dana ZISWAF.


"Tanah Suci tidak hanya mengajarkan cara thawaf mengelilingi Ka'bah. Tanah Suci juga mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak boleh dikalahkan oleh kerakusan modal. Kesucian ibadah akan terasa hampa apabila kita membiarkan saudara-saudara kita hidup dalam keterlantaran," tegasnya.


"Barangkali sudah waktunya kita berhenti hanya menjadi pasar. Sudah waktunya kita menjadi pelaku. Sebab ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya seberapa besar hartanya, melainkan seberapa banyak air mata yang berhasil ia hapus dari wajah saudaranya," pungkas Wari.(Samsul/red).

Komentar

Tampilkan

Terkini